Mata Uang Terburuk Di Asia Tenggara

Jendela24.Com - Mata uang peso Filipina dipandang sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di Asia Tenggara sepanjang tahun 2016.

Peso diprediksi masih akan mengalami masa sulit sejalan dengan rencana anggaran Presiden Rodrigo Duterte yang diperkirakan bakal mendorong impor sementara kenaikan suku bunga AS bisa menyebabkan arus modal keluar.

Mengutip Bloomberg, Rabu (4/1/2016), peso diproyeksikan bakal anjlok ditengah pertumbuhan ekonomi Filipina yang mencapai 7 persen dan program infrastruktur pemerintah mendorong permintaan barang dari luar.

ING Groep NV mengestimasikan, tahun ini akan menjadi yang pertama dalam hampir satu dekade dimana jumlah remitansi atau uang yang dikirim warga Filipina dari luar negeri akan lebih rendah dibandingkan defisit perdagangan.

" Ini adalah situasi yang menantang bagi peso dalam beberapa tahun ke depan. Sektor domestik yang sangat kuat membutuhkan impor baik produk konsumer maupun peralatan berat sejalan dengan ekspansi ekonomi dan pergerakan menuju pertumbuhan (ekonomi) yang didorong investasi," ungkap Joey Cuyegkeng, ekonomi ING Groep NV di Manila.

Sepanjang tahun 2016, peso sudah melemah 5.2 persen terhadap dollar AS. Cuyegkeng memprediksi, nilai tukar peso akan melemah lebih lanjut sebesar 4.4 persen pada akhir tahun 2017.

Ketidakpastian di tataran internasional, dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS dan kekhawatiran gerakan presiden Duterte mendekat ke China dipandang Cuyegkeng sebagai resiko bagi investor.

Pada Rabu siang, peso menguat 0.04 persen ke level 49.76 per dollar AS. Sementara itu, indeks bursa saham Filipina menguat 1.8 persen.

Pemerintah Filipina memproyeksikan peningkatan impor sebesar 10 persen pada tahun 2017, dibandingkan peningkatan 4 persen remitansi.

Uang yang dikirim warga Filipina yang bekerja di luar negeri menyumbang sekitar sepersepuluh ekonomi filipina.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mata Uang Terburuk Di Asia Tenggara"

Posting Komentar